17 Agustus, 2019

Anak Makassar Pencipta Lagu Indonesia Raya



W A G E 

I
Indones', tanah airkoe/ Tanah toempah darahkoe/ Di sanalah akoe berdiri/ Mendjaga Pandoe Iboekoe// Indones' kebangsaankoe/ Kebangsaan tanah airkoe/ Marilah kita berseroe:/"Indones' Bersatoe"// Hidoeplah tanahkoe/ Hidoeplah neg'rikoe/Bangsakoe, djiwakoe, semoea/ Bangoenlah ra'jatnja/ Bangoenlah badannja/ Oentoek Indones' Raja.

II
Indones', tanah jang moelia/ Tanah kita jang kaja/ Di sanalah akoe hidoep/ Oentoek s'lama-lamanja// Indones', tanah poesaka/ Poesaka kita semoea/ Marilah kita mendoa:/ "Indones' Bahagia"// Soeboerlah tanahnja/ Soeboerlah djiwanja/ Bangsanja, ra'jatnja, semoeanja/ Sedarlah hatinja/ Sedarlah boedinja/ Oentoek Indones' Raja.

III
Indones', tanah jang soetji/ Bagi kita di sini/ Di sanalah kita berdiri/ Mendjaga Iboe sedjati// Indones', tanah berseri/ Tanah jang terkoetjintai/ Marilah kita berdjandji:/ "Indones' Bersatoe"// S'lamatlah ra'jatnja/ S'lamatlah poet'ranja/ Poelaoenja, laoetnja, semoea/ Madjoelah neg'rinja/ Madjoelah Pandoenja/ Oentoek Indones' Raja.

Refrain:
Indones', Indones'/ Moelia, Moelia/ Tanahkoe, neg'rikoe jang koetjinta/ Indones', Indones', Moelia, Moelia/Hidoeplah Indones' Raja.

Itu syair sebenarnya. Lagu Indonesia Raya. Bukan satu stanza, seperti berulangkali kita nyanyikan. Tapi tiga stanza, seperti kali pertama saat syairnya dimuat surat kabar Sin Po, November 1928. Kelak tepat sebulan setelah dikumandangkan di arena penutupan Kongres Pemuda II, di Gedung CI (Clubhuis Indonesia) Batavia, 28 Oktober 1928. Mengiringi pembacaan Ikrar "Soempah" Pemoeda.

Tanpa syair walau syairnya telah ditulis. Sebatas irama yang berdentang dari gesekan dawai biola oleh komponisnya sendiri. Musababnya, pasukan bersenjata intel PID (Politieke Inlichtingen) Belanda mengawasi pergerakan kaum muda yang sedang berkongres. Karena kala itu, pantang menyebut kata "Indonesia" apalagi mau menyeru “merdeka”, sebab itu menyebut Indonesia cukup "Indones'" saja, dan kata merdeka digubah "moelia". Ya, “Indones’ Moelia, Moelia”.

Meski dilarang, nyatanya lagu Indonesia Raya tetap saja massif tersiar. Membahana di dinding nurani kaum pergerakan. Makin dilarang, makin dinyanyikan. Semakin dinyanyikan, semakin syahwat mereka kian membara meraup cita-cita. Indonesia yang didamba, merdeka dan berdaulat, segeralah berwujud nyata.

Kelak, 17 tahun pasca 1928, saat yang dinanti-nanti, pun tiba jua. 17 Agustus 1945, kemerdekaan Indonesia diproklamirkan. Sang saka merah putih "berani" dikibar terbuka. Lagu Indonesia Raya, pun dikumandangkan terbuka. Mengiringi sang saka merah putih hingga ke puncak tiang. Berkibar dengan gagah berani di angkasa raya….. Hidoeplah tanahkoe/ Hidoeplah neg'rikoe/Bangsakoe, djiwakoe, semoea/ Bangoenlah ra'jatnja/ Bangoenlah badannja/ Oentoek Indones' (ia) Raja….

Dan beruntunglah negeri ini, sebab seorang pengusaha, Yo Kim Tjan, sempat-sempatnya menyelematkan asli lagu itu dalam piringan hitam. Lalu 1950, Jos Cleber berkebangsaan Belgia, merekam ulang secara suara stereo. Delapan tahun kelak, Peraturan Pemerintah Nomor 44 Tahun 1958 terbit mensahkan lagu Indonesia Raya, resmi sebagai lagu kebangsaan.

Januari 1992, Jos Cleber kembali merekamnya secara digital. Juga kelak delapan tahun sesudahnya, terbitlah Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2009, tentang Bendera, Bahasa Nasional, Lambang Negara dan Lagu Kebangsaan, kian mempertegasnya. Dan 2017 saat ini, pemerintah menyerukan agar lagu Indonesia Raya kembali dinyanyikan seperti aslinya. Tiga stanza. Bukan satu stanza lagi.

Lalu siapa gerangan sang komponis pencipta lagu Indonesia Raya yang melegenda itu? Tak perlu diperjelas, seluruh isi negeri ini tahu, syairnya pun telah dihafal luar kepala, walau sebatas satu stanza saja. Wage Rudolf - disingkat W.R. - Supratman, begitu fasih kita menyebut namanya, tanpa sedikitpun rasa ingin tahu kita, siapa gerangan dirinya.

Mengeja namanya “Rudolf”, seolah tak percaya jika sedikitpun ia tak berdarah Belanda. Bahkan, mungkin kita tak percaya, andai diungkap bahwa dirinya juga pencipta lagu “Ibu Kartini” itu, si kacamata minus itu, masa kanak-kanaknya hingga dewasa, setengah usia nafasnya, ia hirup dari hembusan "anging mammiri". Selain sekolah, ia mengajar, belajar musik dan bermain band saat ia bermukim di Tanah Mangkasara'.

Wage, nama sebenarnya. Nama didapuk dari pembagian hari “pasaran” hitungan kalender masyarakat Jawa. Tempat dan tanggal lahirnya, tetap saja ambigu. Pengadilan Negeri Purwarejo, memutus ia lahir di sana, 19 Maret 1903. Namun Presiden RI, Megawati, mensahkan 9 Maret sebagai Hari Musik Nasional. Terinspirasi dari tanggal lahir Wage sang komponis, di Batavia, 9 Maret 1903.

Ia sendiri laki-laki dari tujuh bersaudara (dua meninggal), pasangan Siti Senen dan Djoemeno Sastrosoehardjo, tentara KNIL Belanda. Kakak iparnya, Willem van Eldik sang petugas administrasi kepolisian kolonial Belanda, suami kakaknya Roekiyem Soepratiyah, 1914 kala iparnya pindah tugas, ikut memboyong Wage ke Makassar, kala itu, ia baru berusia 11 tahun.

Setiba di Makassar – hebatnya -- berkat posisi iparnya, ia diterima di sekolah elit Belanda, ELS (Europese Largera School) meski akhirnya dipecat akibat ketahuan non turunan Belanda. Di tengah namanya, “Rudolf”, abadi melekat dikenal hingga kini, semata tambahan nama dari iparnya agar bisa diterima di ELS. Setelahnya, ia pindah ke Sekolah Melayu. Lulus 1917.

Dari situ, mengikuti kursus bahasa Belanda. Menyabet gelar KAE (Klein Ambtenaars Examen), sekalian di usia 17 (1920) itu, berkat kemahirannya berbahasa Belanda, ia diterima belajar di Normaal School, sekolah guru. Di sinilah ia mula ikut bermain musik aliran jazz, group dipimpinan iparnya. "Black and White", nama group band paling tersohor di Makassar, masa itu.

Sebagai alumnus sekolah guru, di usia 20 tahun, ia bekerja sebagai guru. Tetapi saat hendak ditugaskan ke Sengkang, pedalaman Sulawesi Selatan, ia menolak karena dalih keamanan tak kondusif. Sebab itu ia dicopot sebagai guru, lalu berpindah bekerja di Firma Nadem. Tak lama, ia berpindah lagi ke Kantor Advokat, Mr. Schulten. Juga tak lama karena 1924, ia memilih pulang ke leluhurnya di tana Jawa.

Dari Surabaja, ke Bandoeng, lanjut ke Batavia. Selain bermusik, juga jadi pewarta di koran “Kaoem Moeda”, Kantor Berita “Alpena”, serta koran Tionghwa-Melayu “Sin PO”. Profesi pewarta itulah yang mendekatkan dirinya dengan para tokoh pergerakan. Hingga puncaknya, ketika Wage tampil mendawai biolonya, mengumandangkan syair Indonesia Raya saat Kongres Pemoeda II.

Ya, lagu Indonesia Raya. Resmi lagu kebangsaan yang berulang kali kita nyanyikan dengan syahdu dan khudzu. Kita hormati, bahkan kita sakralkan. Lagu yang membakar gelora kaum pergerakan, hingga bangsa ini meraih kemerdekaan, sekalipun sosok sang komponis, pencipta lagu itu, tak jua sempat menyaksikan kala dikumandangkan mengiringi sang saka merah putih berkibar, ketika Soekarno dan Hatta memproklamirkan kemerdekaan Indonesia.

Wage, mati muda di usia 35 tahun, 17 Agustus 1938, di Surabaja. Memilukan, ia menderita sakit akibat tak henti diuber, diinterogasi, juga ditahan oleh polisi Belanda karena lagu-lagu ciptaannya dinilai menantang kaum kolonial. Ia gugur demi kemerdekaan bangsanya. Ia gugur sebelum menikahi Salamah, kekasihnya. Ia hanya menikahi negerinya. Negeri merdeka yang kita nikmati secara merdeka hingga saat ini, bahkan selanjutnya

16 Agustus, 2019

Pola Hidup Secara Berseragam



Entah musabab apa, pun saya kurang paham. Tiba-tiba saja, saya teringat suatu peristiwa ketika putri semata wayang saya, dulu saat masih duduk di bangku Taman Kanak-Kanak, sepulang dari sekolah, penuh bangga ia menyodorkan sehelai kertas berisi gambar pemandangan indah. Hasil karyanya di sekolah. Saking bangganya lagi karena karyanya itu diberikan nilai “A” (terbaik) oleh gurunya di sekolah. “Bagus!” kata saya meniru Pak Tino Sidin, guru gambar di stasiun TVRI dulu.

Sebagai orangtua, tentulah saya memberikan apresiasi tinggi. Bahkan melebihi dari semestinya. Maksudnya memotivasi. Tapi saat gambar pemandangan itu coba saya cermati, saya merasakan ada sesuatu hal yang ganjil. Semakin meelototi, semakin menemukan keganjilan. Bahkan sekian menit memolototi, membuat kening saya berkerut. Keganjilan itu makin terasa. Bukan goresan, juga bukan pada sapuan warna telah ditimpakan putri saya pada karyanya itu. Ada yang aneh.

Sepertinya, ada suatu hal lain yang menodai suasana kebatinan saya. Meski diberi nilai “A”, tapi di situ ada keganjilan yang sontak menghantarkan ingatan saya ke masa silam, ketika era 1970-an. Gambar pemandangan indah itu, nyaris sama dengan gambar yang pernah saya lukiskan di atas lembar kertas putih, sekitar 30-an tahun yang lalu, di kala saya masih duduk di bangku SD. Pemandangan dengan latar dua gunung menjulang. Di sela dua gunung, ada matahari bersinar.

Goresan gambar pemandangan itu, tak hanya sebatas itu. Di depan gunung selalu saja dibubuhi gambar yang juga nyaris serupa. Di depan gunung, ada petak-petak sawah yang dibelah jalanan desa yang memanjang. Makin mendekat ke gunung jalanannya kian mengecil. Tak lupa, gambar jalan juga dihiasi dengan tiang-tiang listrik. Lalu diantara petak sawah, biasanya dihiasi gambar pepohonan, tak lupa juga ditambahi gubuk mugil, sederhana khas ala rumah penunggu sawah.

Saya meyakini, bukan hanya saya, juga bukan hanya putri saya yang pernah menggores gambar pemandangan seperti itu, tapi mungkin Anda atau siapa saja penduduk di negeri yang memiliki pemandangan alam yang indah ini, pun pernah menggambar pemandangan yang sama, seperti baru saja dilukis putri saya itu. Terbukti, pun saya pernah mengujinya pada sekian karib saya di salah satu organisasi tingkat nasional. Sekian orang asal daerah berbeda, tapi melukisnya sama.

Saya kurang paham, ini kira-kira faktor apa? gejala apa? secara massal jutaan penduduk negeri ini, seolah kompak memiliki imajinasi yang sama dalam melukis pemandangan dengan goresan yang nyaris seragam. Entah faktor guru yang kaku memberi visualisasi gambaran pemandangan pada muridnya, atau memang kebekuan kita setanah air memaknai pemandangan secara visual meski aneka ragam pemandangan indah tersedia di negeri ini untuk diapresiasi dalam lukisan.

Heran, entah musabab apa, kenapa massal secara nasional kita seolah mendapat wangsit turun temurun, kompak dari satu generasi ke sekian generasi berikut, bersatu melukis pemandangan dengan goresan yang persis sama. Siapa memulai? Perintah siapa? Ini imaji macam apa? Bilakah ini musabab dari kebiasaan kita sejak balita, hidup berdasar kepatuhan, keluar dari yang pakem adalah dosa. Mungkinkah musabab semua itu, generasi bangsa ini terjebak dogma. Miskin kreatifitas? Entahlah!

15 Agustus, 2019

Mengenang Andi Mappetahang Fatwa



KETEGUHAN SIKAP SI KEPALA GRANIT 

“… banyak pejabat sekarang yang hamil dan melahirkan banyak mobil mewah, hamil dan melahirkan banyak rumah,… “ (TEMPO, edisi 28, 09 September 1979)

Bukan hanya sebait itu kalimat pedas yang ia sampaikan, tetapi hampir tiap kali menyampaikan khutbahnya di sejumlah masjid di Jakarta. Lelaki bangsawan Bugis yang dijuluki Si Kepala Granit, sosok si keras kepala itu, tiada henti menyampaikan kritikan pedas, membuat kuping penguasa Orde Baru memerah. Sebabnya, ia terus-terusan di intai aparat keamanan yang masa itu sering bertindak represif. Tapi ia tak sedikitpun merasa gentar. Tak selembar kuduknya berdiri. Makin ditekan, kian keberaniannya menggelembung. Padahal saat itu sudah berstatus PNS Pemda DKI. Akibatnya, September 1979 berdasar SK Mendagri 813.188-247 ia dipecat dengan tidak hormat.

Risiko lain. Suatu hari, rumahnya di Karet Sentiong, Jakarta Pusat, diporak-poranda oleh orang tak dikenal, setelah sebelumnya air pam yang mengalir ke rumahnya ditaburi racun. Bahkan di suatu hari berikutnya, saat menyetir mobil, melintas di ruas jalan dekat Monas, lehernya nyaris putus akibat sabetan celurit oleh orang yang juga tak dikenal, meski patut ia duga aparat. Tuhan masihlah melindungi dirinya, sabetan meleset, tapi bibir di bagian atasnya robek. Mendapat 13 jahitan. Meski telah dilakukan operasi plastik, tetapi bekas sabetan celurit itu, membekas. Cacat fisik yang menyejarah di atas bibirnya yang selalu mengkritik pedas. Itu risiko, katanya enteng.

***

Tahun 1957 di era Orde Lama, saat masih berstatus mahasiswa IAIN Jakarta, sebagai Ketua HMI cabang Ciputat dan PB HMI, tiada henti mengusik kekuasaan Soekarno. Di tahun 1963, sebagai anggota Dewan Mahasiswa, ia mengomandoi demonstrasi di kampusnya. Mengkritik kebijakan Rektor IAIN, juga Menteri Agama. Demonstrasi itu dianggap merongrong kewibawaan Soekarno selaku pemimpin besar revolusi. Danggap mengganggu persiapan Ganefo saat Indonesia tengah berkonfrontasi dengan Malaysia. Ia akhirnya diciduk aparat, lalu dijerat Undang-undang Nomor II/PNPS/1963 yang umum dikenal Undang-undang tentang subversi.

Ia ditahan di Mabes Kepolisian Jakarta, lalu dipindah ke Sukabumi. Di sana, ia terus diinterogasi.  Tak mengalami siksa fisik, tapi psikisnya diteror. Kumisnya dibakar pakai korek. Enam bulan itu, tiap pekan dipindah. Ke Solo, Karanganyar, lalu Tawangmangu. Bukan di tahanan tapi disekap di ruang kecil yang jendelanya dipaku dari luar. Dan saat Soekarno lengser, ia segera dikembalikan ke Jakarta. Status tahanan kota, lalu bebas tanpa pernah menjalani persidangan. Masa awal era Orde Baru, ia mengikuti Sekolah Dasar Perwira Komando (Sedaspako) V/1967 KKO-AL, tapi tidak jadi Perwira Angkatan Laut. Hanya jadi imam tentara di Pusat Pendidikan Tamtama di Surabaya.

***

Setelah menjalani tugas sebagai imam tentara, diperbantukan di Pemerintahan DKI Jakarta, era Ali Sadikin, selaku Pembantu Gubernur bidang agama dan politik. Lalu di saat kekuasaan militer Orde Baru, masa itu kian menyeramkan, apakah sikap keras kepalanya berubah? Tidak! Ia tetap tak jera. Keberanian dan sikap kritisnya kian menjadi-jadi. Pidato dan khutbahnya, justru makin pedas. 1978, lagi-lagi ia kembali ditahan selama sembilan bulan, akibat pernyataan pidato yang disampaikan dalam Rapat Akbar Umat Islam di Senayan. Menyatakan Kebulatan Tekad menolak “Aliran Kepercayaan” dimasukkan dalam draf GBHN.

Selepas dari tahanan, kapokkah ia? Tidak! Lagi-lagi diakhir Agustus 1979, petugas Laksusda Jaya kembali menyeretnya masuk buih, akibat khutbahnya “Para Pejabat, Sadar dan Istigfarlah” yang disampaikan dalam rapat umum ummat Islam seusai Shalat Ied di lapangan parkir Pacuan Kuda Pulomas. Tampaknya, justru bergabungnya ia dengan Ali Sadikin, nyali dan keberaniannya kian membara. Berbukti, ia berhasil mengajak Ali Sadikin, serta sejumlah tokoh dan petinggi tentara lainnya guna mendiskusi secara berkala soal kondisi bangsa dan kebijakan penguasa Orde Baru. Topik paling anyar, soal lima undang-undang politik dan penetapan asas tunggal Pancasila.

***

Kelompok diskusi itu belakangan menamai dirinya “Kelompok Petisi 50”. Meski dihuni sejumlah tokoh berpengaruh negeri ini, lelaki keras kepala itu menjadi sekretaris. Dan justru akibat posisi itulah, dia bersama dua tokoh lainnya, Menteri Perindustrian, Tekstil dan Kerajinan Rakyat, HM Sanusi, serta mantan Pangdam Siliwangi, Letjen TNI (Purn) HR Dharsono, ditangkap, dijebloskan masuk penjara. Dirinya dihukum 18 tahun. Bertiga, jadi martir dari 22 tokoh Kelompok Petisi 50 penandatangan “Lembaran Putih” atas penembakan dilakukan aparat yang berakibat kematian puluhan orang yang tengah berdemonstrasi dalam Peristiwa Tanjung Priok 12 September 1984.

Dirinya memang dijatuhi hukuman 18 tahun penjara sesuai tuntutan jaksa, tapi bebas 1993. Dijalani hanya 9 tahun setelah mendapat amnesty. Pedihnya kehidupan dalam penjara, soal dipukuli, ditendang, bahkan diinjak, baginya hal biasa. Ia pernah dikurung alam sel dengan cara berdiri di atas kaca yang sekelilingnya bertabur tai manusia. Lalu subuh, dengan mata ditutup kain hitam, kepalanya ditodong pistol, badannya ditodong sangkur, lalu ia dibawa ke suatu tempat - yang sendiri tidak tahu - berkendara mobil jeep. Tengah perjalanan ia disuruh turun. “Kamu akan kami tembak, lalu kami masukkan karung. Ada pesan untuk keluarga?”. Bisik orang yang menangkapnya.

*** 

Tellabu essoe ri tengngana bittarae. Matahari tak tenggelam di siang hari. Kematian tak datang jika ajal belum tiba. Demikian ajaran Raja Bone, La Tenritata Arung Palakka. Sebersit ajaran dari moyangnya yang ia pegang teguh. Lelaki pemberani Tanah Bugis, lahir di Bone 12 Februari 1939 ini, tak jadi ditembak. Ajalnya belum tiba. Justru dikaruniai kesehatan. Meneruskan perjuangan. Menjadi Staf Khusus Menteri Agama Tarmidzi Taher, juga Qurais Shihab. Bahkan turut merintis berdirinya PAN. Partai politik inilah, kemudian menghantarnya masuk ke parlemen. Wakil Ketua DPR-RI (1999-2004) dan Wakil Ketua MPR-RI (2004-2009), serta Anggota DPR-RI (dua periode).

Di ujung akhir hidupnya, ia memijakkan kaki di gedung yang isinya pernah ia hujat. Disebutnya "kumpulan orang-orang yang hamil dan melahirkan banyak mobil dan rumah mewah". Jika ia menghabiskan 12 tahun dalam kurungan, maka di parlemen ia 18 tahun menduduki kursi terhormat itu. Ia ada dalam kurungan, karena ia menyampaikan apa yang ia yaqini kebenarannya. Kritikannya sangatlah pedis, risiko didapatkannya pun sangatlah pahit. Ia keras kepala, dijuluki Si Kepala Granit. Di era Orde Lama Soekarno, Orde Baru Soeharto, dicap pemberontak, tapi justru di akhir hayatnya, 14 Desember 2017 (78 tahun), ia dimakam di Taman Makam Pahlawan Kalibata. Itulah “Fatwa” kebenaran.

Sumber:  http://rilis.id/mengenang-si-kepala-granit-andi-mappetahang-fatwa